Rabu, 19 September 2012

Kisah Cinta Rania



Kisah Cinta Rania

Rania termenung membaca kartu undangan ditangannya. Seakan tak percaya, Rania membaca berulangkali nama yang tertera dalam kartu undangan warna merah muda berpita. Seseorang menitipkan kartu undangan itu  pada Mutia sahabatnya. Saat bertemu Rania di kampus, Mutia dengan senyum menggoda memberikan kartu itu,
“ Pangeran idamanmu ternyata telah menemukan permaisurinya!” bisik Mutia meledek. Dengan penasaran cepat dibukanya kartu undangan yang masih tertutup plastik bening,
“ Masya Alloh…..! Benarkah??” Rania menatap wajah Mutia sahabatnya yang tampak bingung melihat reaksi Rania. Didalam kartu undangan itu, tertera  nama Mukhlis Yahya yang akan melangsungkan pernikahan dengan Madina Syahidah sabtu depan. Nama terakhir adalah teman mengaji Rania di Mushola Al Insan di kampusnya yang terletak di sebelah timur kota Pekanbaru.
“ Hari ini adalah hari terburuk bagiku!...Mutia, antarkan aku pulang!” dengan tergesa Rania menarik sahabatnya masuk kedalam mobilnya.
Rania tak habis pikir mengapa semua ini terjadi. Pikirannya menerawang mengingat masa lalunya yang boleh dikatakan kelam bagi remaja seusianya. Terlahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya seorang pengusaha sukses dan Ibunya adalah seorang pengacara. Rania yang anak tunggal hidup berlimpahan materi, sehingga membentuk karakternya menjadi sombong, suka merendahkan orang lain bahkan sedikit egois dan narsis. Rania yang cantik berwajah blasteran Jerman-Indonesia adalah ratu  ditengah keluarga. Segala keinginannya haruslah terpenuhi saat itu juga. Kalau tidak, orangtuanya akan kelabakan karena Rania nekad mogok makan. Pendidikan Agama boleh dikata tidak ada dalam kehidupan Rania. Sehingga pergaulan bebas tak asing lagi baginya. Mahasiswi semester satu jurusan Hubungan Internasional ini nyaris mati terkapar karena over dosis obat terlarang. Saat itu, orangtua Rania hanya bisa pasrah dan berdoa bagi keselamatan putri tunggalnya.
Hingga di suatu pagi yang dingin, Rania tak sengaja melintasi Mushola Al-Insan yang bercat putih bersama Mutia sahabatnya. Terdengar sayup-sayup suara seorang lelaki tengah mengaji. Langkah tergesa Rania mendadak terhenti. Dirinya seperti terlempar masuk kedalam taman yang sangat indah, dengan semilir angin yang menyejukkan hati,
“ Sst…Mutia! Suara siapa itu? …..Siapa yang mengaji pagi-pagi begini?!” bisik Rania. Dari balik kaca jendela yang sedikit terbuka, Rania mencoba mengintip kedalam Mushola. Tidak tampak olehnya siapapun. Hanya suara yang merdu, menyejukkan  dan menggetarkan hati. Lantunan ayat suci yang dibaca oleh lelaki itu seakan mengajak dua sahabat itu masuk kedalam Mushola. Hal yang selama ini jarang mereka lakukan. Karena tempat favorit mereka adalah kafe di belakang kampus.
Tiba di dalam Mushola, suara itu terhenti. Merasa diperhatikan, lelaki itu menoleh,
“ Assalamualaikum…..” sapa lelaki itu tersenyum. Rania tersentak, dalam beberapa detik layaknya patung. Mutia kebingungan melihat sikap sahabatnya.
“ Saya Mukhlis. Alumni kampus ini. Ada yang bisa saya Bantu?!” Mutia menyikut lengan Rania yang segera tersadar dari mimpi indahnya. Wajah itu…..wajah itu lebih tampan dari aktor Brad Pitt !
“ Oh…eh…saya …saya Rania dan ini Mutia sahabat saya. Eh….maaf kami tak bermaksud mengganggu…!” Rania menjadi salah tingkah. Mutia geli melihat sikap aneh sahabatnya ini. Kemana Rania yang kukenal galak? Batin Mutia.
” Oh…..Tak apa. Saya sudah selesai. Ada kuliah pagi ya? …Dulu saya ambil sastra Indonesia di kampus ini.” Ujar Mukhlis sambil merapikan sajadah dan meletakkannya di lemari.
“ Tadi kami dengar suara Bang Mukhlis sewaktu mengaji. Ehm…saya eh kami …jadi tertarik. Belum pernah saya dengar suara semerdu ini.Mungkin…..ehm mungkin Bang Mukhlis mau mengajarkan kami?!” Mutia melotot kearah Rania.Apa?...Belajar mengaji? Sejak kapan tertarik ngaji? Geram mutia.
“ Oh…boleh boleh..Dengan senang hati. Kebetulan setiap Jumat pagi ada kajian belajar mengaji di Mushola ini. Datanglah….! Nanti bisa bergabung dengan teman-teman yang lain…” Rania tersenyum. Sinar mentari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela, dan menyinari wajah cantiknya, seakan ikut bersuka cita.
Mutia terheran-heran akan perubahan sikap Rania. Namun, Rania tetap teguh dengan keinginannya. Siapa lagi kalau bukan Rania, yang segala keinginannya harus selalu terpenuhi? Perubahan drastis yang terjadi pada Rania seharusnya patut disyukuri. Setidaknya itulah yang diucapkan sang Ibu, menyaksikan Rania yang mendadak jadi putri penurut. Mulai belajar mengendalikan emosi, tidak meledak-ledak seperti dulu. Tidak pulang larut malam lagi dan yang paling membahagiakan orangtuanya adalah Rania yang kini mulai belajar mengaji. Jumat pagi adalah jadwal rutin Rania mengaji bersama Bang Mukhlis dan beberapa teman yang lain.Mutia pun mengikuti kehendak Rania untuk menemaninya. Bahkan Rania menjadi rajin menyambangi Mushola dan mulai menolak dengan halus tawaran untuk hang out bersama beberapa teman prianya,
“ Sudahlah Mut! Itu masa lalu…Bukankah kita harus belajar menata masa depan? Sudah terlalu banyak dosa yang kita lakukan….!” Ujar Rania saat Mutia bertanya kenapa kini jadi sulit kumpul dengan teman satu gengnya.
“ Tapi….bener nih kamu berubah karena kemauan sendiri? Atau…karena Bang Mukhlis? Sepertinya….ada apa-apa nih antar kalian berdua…!” goda mutia.
“ Hush!....Jangan menyebar gossip ah!....Nggak bagus….Ingat kata-kata Bang Mukhlis hati-hati dengan lisanmu.”
“ Iya….iya! Aku paham. Tapi….itu loh…dari cara kamu menatap dia..seperti melihat sang pangeran dari negeri impian..hahaha.” ledek Mutia tergelak.
“ Sudah ah!...Kamu ini, jangan sampai terdengar Bang Mukhlis ya!!”
“ Terdengar apa?....Bahwa kamu jatuh hati pada sang pangeran itu?? Hayoo ngaku…!!”
Rania tersenyum. Dirinya bukannya tak menyadari perubahan sikapnya pada Bang Mukhlis. Jika menghadapinya, sikap Rania mendadak berubah. Lebih sopan, lembut dan berusaha menjaga sikap. Hidupnya terasa lebih berpelangi, lebih bermakna dari sebelumnya. Enam bulan belajar bersama , menjadikan Rania mengenal hakikat hidup yang sebenarnya. Namun, baru belakangan ini dirinya mulai menyadari arti debar jantungnya saat menatap Bang mukhlis berbicara, memberinya nasehat bahkan Rania merasa perhatian Bang Mukhlis kepadanya lebih dari sekedar guru kepada muridnya. Bahkan abang kepada adiknya. Apakah benar kata-kata Mutia bahwa aku menyukai Bang Mukhlis? Tanya Rania dalam hati. Dan apakah Bang Mukhlis juga memendam perasaan yang sama denganku? Entahlah….!Walaupun sedari awal berjumpa dengannya dan akhirnya mengikuti kajian bersama Bang Mukhlis semata hanya untuk menikmati wajahnya yang tampan itu. Hingga kini, niat awal itu mulai berubah dengan tumbuhnya rasa suka. Lalu, salahkah bila aku merindukan seorang pangeran yang akan membawaku ke syurga dunia dan akhirat? Batin Rania gelisah.
Dan akhirnya, kegelisahan Raniapun terjawab sudah…Senja itu, matahari perlahan menyisakan warna keemasannya. Saat Rania selesai mengikuti kajian tentang ilmu tajwid di Mushola. Ketika suasana agak lengang, Bang Mukhlis menghampiri Rania, yang sedang membereskan kertas-kertas yang berserakan,
“ Ran…..ini ada sekedar kenang-kenangan dari saya. Maaf….saya tidak tahu warna favorit kamu, tapi semoga kamu suka ya…Dan berkenan menerimanya.”
” Apa ini bang?” Rania nampak surprise dengan kado berbentuk hati berwarna pink itu. Bang Mukhlis kemudian duduk disamping Rania. Debar jantung Rania seakan bisa terdengar oleh dirinya sendiri.
“ Saya tahu….kamu selalu semangat sekali untuk selalu hadir…dan itu harus disyukuri..Tapi…bukan berarti kalau saya tidak ada disini semangatmu hilang tertiup angin.”
” Maksud abang?” Rania tak bisa meredakan debar jantungnya yang semakin kencang saja…
“ maaf Ran..saya  mulai besok tak bisa hadir disini lagi…besok..saya akan pulang ke kampung saya di Jawa sana….Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Tapi…tak apa, nanti ada yang menggantikan saya yakni Bang Irsyad. Saya mungkin agak lama…”
Penjelasan Bang mukhlis seakan sebilah pisau yang mengiris-iris hati yang mulai berbunga milik Rania. Bunga itu diharuskan layu…sebelum menikmati sinar mentari. Mengapa di saat hatiku tertarik padamu, lalu abang pergi begitu saja? Sesal Rania.
Kado dari Bang  Mukhlis berisikan jilbab biru laut berenda putih warna favorit Rania! Ada sedikit tulisan di kertas putih dari Bang Mukhlis yang isinya,
“ Ikhlaslah selalu dalam mengerjakan apapun…..hingga kita bisa meraih cinta-Nya. Semoga adik selalu semangat mengaji di Mushola ini.Salam…..dari abangmu Mukhlis.”
Rania tergugu dalam pelukan Mutia sahabatnya. Langit yang berwarna biru mendadak mendung, menandakan akan turun hujan deras. Rania berjanji dalam hatinya akan selalu semangat seperti pesan Bang Mukhlis.Walaupun cinta yang mulai mewarnai hatinya kini berguguran lenyap diterpa hujan yang menderas.Aku akan selalu menunggumu bang….disini di Mushola ini..entah sampai kapan, isak Rania tertahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar