Kisah Cinta Rania
Rania termenung membaca kartu
undangan ditangannya. Seakan tak percaya, Rania membaca berulangkali nama yang
tertera dalam kartu undangan warna merah muda berpita. Seseorang menitipkan
kartu undangan itu pada Mutia sahabatnya.
Saat bertemu Rania di kampus, Mutia dengan senyum menggoda memberikan kartu
itu,
“ Pangeran idamanmu ternyata
telah menemukan permaisurinya!” bisik Mutia meledek. Dengan penasaran cepat
dibukanya kartu undangan yang masih tertutup plastik bening,
“ Masya Alloh…..! Benarkah??”
Rania menatap wajah Mutia sahabatnya yang tampak bingung melihat reaksi Rania.
Didalam kartu undangan itu, tertera nama
Mukhlis Yahya yang akan melangsungkan pernikahan dengan Madina Syahidah sabtu
depan. Nama terakhir adalah teman mengaji Rania di Mushola Al Insan di
kampusnya yang terletak di sebelah timur kota
Pekanbaru.
“ Hari ini adalah hari terburuk
bagiku!...Mutia, antarkan aku pulang!” dengan tergesa Rania menarik sahabatnya
masuk kedalam mobilnya.
Rania tak habis pikir mengapa
semua ini terjadi. Pikirannya menerawang mengingat masa lalunya yang boleh
dikatakan kelam bagi remaja seusianya. Terlahir dari keluarga kaya raya.
Ayahnya seorang pengusaha sukses dan Ibunya adalah seorang pengacara. Rania
yang anak tunggal hidup berlimpahan materi, sehingga membentuk karakternya
menjadi sombong, suka merendahkan orang lain bahkan sedikit egois dan narsis.
Rania yang cantik berwajah blasteran Jerman-Indonesia adalah ratu ditengah keluarga. Segala keinginannya
haruslah terpenuhi saat itu juga. Kalau tidak, orangtuanya akan kelabakan
karena Rania nekad mogok makan. Pendidikan Agama boleh dikata tidak ada dalam
kehidupan Rania. Sehingga pergaulan bebas tak asing lagi baginya. Mahasiswi
semester satu jurusan Hubungan Internasional ini nyaris mati terkapar karena
over dosis obat terlarang. Saat itu, orangtua Rania hanya bisa pasrah dan
berdoa bagi keselamatan putri tunggalnya.
Hingga di suatu pagi yang dingin,
Rania tak sengaja melintasi Mushola Al-Insan yang bercat putih bersama Mutia
sahabatnya. Terdengar sayup-sayup suara seorang lelaki tengah mengaji. Langkah
tergesa Rania mendadak terhenti. Dirinya seperti terlempar masuk kedalam taman
yang sangat indah, dengan semilir angin yang menyejukkan hati,
“ Sst…Mutia! Suara siapa itu?
…..Siapa yang mengaji pagi-pagi begini?!” bisik Rania. Dari balik kaca jendela
yang sedikit terbuka, Rania mencoba mengintip kedalam Mushola. Tidak tampak
olehnya siapapun. Hanya suara yang merdu, menyejukkan dan menggetarkan hati. Lantunan ayat suci
yang dibaca oleh lelaki itu seakan mengajak dua sahabat itu masuk kedalam
Mushola. Hal yang selama ini jarang mereka lakukan. Karena tempat favorit
mereka adalah kafe di belakang kampus.
Tiba di dalam Mushola, suara itu
terhenti. Merasa diperhatikan, lelaki itu menoleh,
“ Assalamualaikum…..” sapa lelaki
itu tersenyum. Rania tersentak, dalam beberapa detik layaknya patung. Mutia
kebingungan melihat sikap sahabatnya.
“ Saya Mukhlis. Alumni kampus
ini. Ada yang
bisa saya Bantu?!” Mutia menyikut lengan Rania yang segera tersadar dari mimpi
indahnya. Wajah itu…..wajah itu lebih tampan dari aktor Brad Pitt !
“ Oh…eh…saya …saya Rania dan ini
Mutia sahabat saya. Eh….maaf kami tak bermaksud mengganggu…!” Rania menjadi
salah tingkah. Mutia geli melihat sikap aneh sahabatnya ini. Kemana Rania yang
kukenal galak? Batin Mutia.
” Oh…..Tak apa. Saya sudah selesai. Ada kuliah pagi ya? …Dulu saya ambil sastra Indonesia di kampus ini.” Ujar Mukhlis sambil merapikan sajadah dan meletakkannya di lemari.
” Oh…..Tak apa. Saya sudah selesai. Ada kuliah pagi ya? …Dulu saya ambil sastra Indonesia di kampus ini.” Ujar Mukhlis sambil merapikan sajadah dan meletakkannya di lemari.
“ Tadi kami dengar suara Bang
Mukhlis sewaktu mengaji. Ehm…saya eh kami …jadi tertarik. Belum pernah saya
dengar suara semerdu ini.Mungkin…..ehm mungkin Bang Mukhlis mau mengajarkan
kami?!” Mutia melotot kearah Rania.Apa?...Belajar mengaji? Sejak kapan tertarik
ngaji? Geram mutia.
“ Oh…boleh boleh..Dengan senang
hati. Kebetulan setiap Jumat pagi ada kajian belajar mengaji di Mushola ini.
Datanglah….! Nanti bisa bergabung dengan teman-teman yang lain…” Rania
tersenyum. Sinar mentari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela, dan
menyinari wajah cantiknya, seakan ikut bersuka cita.
Mutia terheran-heran akan
perubahan sikap Rania. Namun, Rania tetap teguh dengan keinginannya. Siapa lagi
kalau bukan Rania, yang segala keinginannya harus selalu terpenuhi? Perubahan drastis
yang terjadi pada Rania seharusnya patut disyukuri. Setidaknya itulah yang
diucapkan sang Ibu, menyaksikan Rania yang mendadak jadi putri penurut. Mulai
belajar mengendalikan emosi, tidak meledak-ledak seperti dulu. Tidak pulang
larut malam lagi dan yang paling membahagiakan orangtuanya adalah Rania yang
kini mulai belajar mengaji. Jumat pagi adalah jadwal rutin Rania mengaji
bersama Bang Mukhlis dan beberapa teman yang lain.Mutia pun mengikuti kehendak
Rania untuk menemaninya. Bahkan Rania menjadi rajin menyambangi Mushola dan
mulai menolak dengan halus tawaran untuk hang out bersama beberapa teman
prianya,
“ Sudahlah Mut! Itu masa
lalu…Bukankah kita harus belajar menata masa depan? Sudah terlalu banyak dosa
yang kita lakukan….!” Ujar Rania saat Mutia bertanya kenapa kini jadi sulit
kumpul dengan teman satu gengnya.
“ Tapi….bener nih kamu berubah karena
kemauan sendiri? Atau…karena Bang Mukhlis? Sepertinya….ada apa-apa nih antar
kalian berdua…!” goda mutia.
“ Hush!....Jangan menyebar gossip
ah!....Nggak bagus….Ingat kata-kata Bang Mukhlis hati-hati dengan lisanmu.”
“ Iya….iya! Aku paham. Tapi….itu
loh…dari cara kamu menatap dia..seperti melihat sang pangeran dari negeri
impian..hahaha.” ledek Mutia tergelak.
“ Sudah ah!...Kamu ini, jangan
sampai terdengar Bang Mukhlis ya!!”
“ Terdengar apa?....Bahwa kamu
jatuh hati pada sang pangeran itu?? Hayoo ngaku…!!”
Rania tersenyum. Dirinya bukannya
tak menyadari perubahan sikapnya pada Bang Mukhlis. Jika menghadapinya, sikap
Rania mendadak berubah. Lebih sopan, lembut dan berusaha menjaga sikap. Hidupnya
terasa lebih berpelangi, lebih bermakna dari sebelumnya. Enam bulan belajar
bersama , menjadikan Rania mengenal hakikat hidup yang sebenarnya. Namun, baru
belakangan ini dirinya mulai menyadari arti debar jantungnya saat menatap Bang
mukhlis berbicara, memberinya nasehat bahkan Rania merasa perhatian Bang
Mukhlis kepadanya lebih dari sekedar guru kepada muridnya. Bahkan abang kepada
adiknya. Apakah benar kata-kata Mutia bahwa aku menyukai Bang Mukhlis? Tanya
Rania dalam hati. Dan apakah Bang Mukhlis juga memendam perasaan yang sama
denganku? Entahlah….!Walaupun sedari awal berjumpa dengannya dan akhirnya
mengikuti kajian bersama Bang Mukhlis semata hanya untuk menikmati wajahnya
yang tampan itu. Hingga kini, niat awal itu mulai berubah dengan tumbuhnya rasa
suka. Lalu, salahkah bila aku merindukan seorang pangeran yang akan membawaku
ke syurga dunia dan akhirat? Batin Rania gelisah.
Dan akhirnya, kegelisahan
Raniapun terjawab sudah…Senja itu, matahari perlahan menyisakan warna
keemasannya. Saat Rania selesai mengikuti kajian tentang ilmu tajwid di
Mushola. Ketika suasana agak lengang, Bang Mukhlis menghampiri Rania, yang
sedang membereskan kertas-kertas yang berserakan,
“ Ran…..ini ada sekedar
kenang-kenangan dari saya. Maaf….saya tidak tahu warna favorit kamu, tapi
semoga kamu suka ya…Dan berkenan menerimanya.”
” Apa ini bang?” Rania nampak surprise dengan kado berbentuk hati berwarna pink itu. Bang Mukhlis kemudian duduk disamping Rania. Debar jantung Rania seakan bisa terdengar oleh dirinya sendiri.
” Apa ini bang?” Rania nampak surprise dengan kado berbentuk hati berwarna pink itu. Bang Mukhlis kemudian duduk disamping Rania. Debar jantung Rania seakan bisa terdengar oleh dirinya sendiri.
“ Saya tahu….kamu selalu semangat
sekali untuk selalu hadir…dan itu harus disyukuri..Tapi…bukan berarti kalau
saya tidak ada disini semangatmu hilang tertiup angin.”
” Maksud abang?” Rania tak bisa meredakan debar jantungnya yang semakin kencang saja…
” Maksud abang?” Rania tak bisa meredakan debar jantungnya yang semakin kencang saja…
“ maaf Ran..saya mulai besok tak bisa hadir disini
lagi…besok..saya akan pulang ke kampung saya di Jawa sana….Ada urusan keluarga yang harus
diselesaikan. Tapi…tak apa, nanti ada yang menggantikan saya yakni Bang Irsyad.
Saya mungkin agak lama…”
Penjelasan Bang mukhlis seakan
sebilah pisau yang mengiris-iris hati yang mulai berbunga milik Rania. Bunga
itu diharuskan layu…sebelum menikmati sinar mentari. Mengapa di saat hatiku
tertarik padamu, lalu abang pergi begitu saja? Sesal Rania.
Kado dari Bang Mukhlis berisikan jilbab biru laut berenda
putih warna favorit Rania! Ada
sedikit tulisan di kertas putih dari Bang Mukhlis yang isinya,
“ Ikhlaslah selalu dalam
mengerjakan apapun…..hingga kita bisa meraih cinta-Nya. Semoga adik selalu
semangat mengaji di Mushola ini.Salam…..dari abangmu Mukhlis.”
Rania tergugu dalam pelukan Mutia
sahabatnya. Langit yang berwarna biru mendadak mendung, menandakan akan turun
hujan deras. Rania berjanji dalam hatinya akan selalu semangat seperti pesan
Bang Mukhlis.Walaupun cinta yang mulai mewarnai hatinya kini berguguran lenyap
diterpa hujan yang menderas.Aku akan selalu menunggumu bang….disini di Mushola
ini..entah sampai kapan, isak Rania tertahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar