Rabu, 19 September 2012

Emak maafkan Aku



                                              Emak Maafkan Aku


Gerimis pagi ini seolah mengerti kesedihanku. Alam seakan ikut berduka dan tiada henti menemaniku dengan  tetesan air yang membasahi apa saja. Aku terus mengutuk diriku sendiri dan selalu merasa bersalah kenapa ini terjadi. Dua tahun kerja kerasku terasa sia-sia saja….Masih terbayang senyuman Emak, saat menerima hadiah pertama kalinya dariku. Kupandang baju yang tergantung di pojok kamar. Kain songket hijau lumut dipadu dengan baju gamis khas melayu. Baju yang seharusnya di kenakan Emak saat ulangtahunnya nanti. Namun itu semua bagai mimpi, karena Emak pun tak kan sempat memakainya. Justru saat hatiku bahagia karena azzamku membahagiakan Emak saat  hari bahagia itu terwujud.
Masih segar dalam ingatanku saat Emak rutin membangunkan aku di subuh hari,
“ Satria…bangun! Sholat Subuh ke Masjid! Tak dengar adzan dah berkumandang?” Ujar Emak menggoyang-goyang tubuhku.
“ Nanti Mak…! Masih ngantuk…dirumahkan bisa sholatnya Mak?!” Aku meraih selimut dan kembali tertidur.
“ Hay….macam mana kau bisa sukses, sholat subuh pun malas !” Aku mendengar langkah kaki Emak keluar kamar.
“ Mak, kalau mau sukses tu kerja, bukannya sholat subuh!” gerutuku sambil menutupi telingaku dengan bantal.

Semenjak Ayah meninggal lima tahun yang lalu karena tertabrak mobil, hidupku tak tentu arah. Selepas sekolah menengah, aku tak melanjutkan kuliah seperti teman-temanku yang lainnya. Ketiadaan biaya jadi alasan klise menurutku. Bukankah Emak bisa meminjam uang pada Om Eka yang kaya raya itu? Lagipula Om Eka adalah abang dari Ayahku. Lalu mengapa Emak tak mau mengusahakan aku untuk bisa kuliah? Emak justru menyuruh aku bekerja pada Om Eka sebagai penjaga gudang beras miliknya. Aku sangat kecewa saat itu!  Karena gengsi pula aku menolak perintah Emak. Impianku menjadi sarjana hilang terbawa angin. Apalagi Ayah tak meninggalkan warisan apapun, selain sepetak rumah dan hutang yang bertumpuk.
Tahun demi tahun berlalu dengan irama yang sama. Emak kulihat semakin sering sakit-sakitan. Entah apa penyebabnya. Apa karena selalu memikirkanku yang menjadi lelaki pengangguran? Aku memang tak ingin melakukan apapun.Karena bagiku hidupku sudah selesai dan tak ada lagi impian bahkan cita-cita. Kerjaku hanya dirumah, kadang pergi kerumah kawan yang hampir selesai kuliahnya. Hingga di suatu malam, Emak memanggilku di beranda depan rumah. Bulan sabit nampak bercahaya.Malam begitu syahdunya sehingga membuatku mengantuk.
“ Sat…Emak tak kuat lagi melihatmu seperti ini.Maafkan Emak karena kau tak bisa kuliah..Tapi ini sudah suratan takdir, nak! Ayahmu tak meninggalkan warisan apapun, bahkan hutangnya menumpuk..Emak tak sanggup berhutang lagi untuk biaya kuliahmu,nak!” Kulihat Emak dengan sedikit kesal.
“ Satria harus kerja dimana Mak?...Mana ada perusahaan atau kantor yang menerima lulusan SMA seperti aku ini? Paling kerjanya jadi pesuruh. Kalau aku sarjana , mungkin aku sudah jadi direktur atau Kepala bagian…”
“ Satria…kerja apapun asal halal tak apa nak..Kalau Emak ingin kau langsung kerja saja, itu juga untukmu sendiri, Mak tak meminta apapun darimu. Hanya….bila nanti Mak dipanggil gusti Alloh Mak akan ikhlas,karena  kau sudah mandiri dan punya penghasilan sendiri.Jadi tidak tergantung sama orang lain, nak!” jelas Emak sambil terbatuk-terbatuk. Usia Emak kini menginjak 75 tahun, usia yang semakin sepuh. Dan itu tak kusadari dari awal.Hatiku seperti tertohok mendengar ucapan Emak barusan.Dipanggil Tuhan? Apakah…apakah Emak akan pergi untuk selamanya? Sepintas bayangan almarhum Ayahku berkelebat.
“Mak…Jangan ucapkan itu lagi Mak!”Aku seperti tersadar dari mimpiku selama ini. Kupandangi wajah Emak. Kerutan wajah tirusnya, sorotan matanya yang tak lagi awas karena katarak, tangan kanannya yang gemetar saat memegang gelas membuatku bersimpuh di pangkuannya,
“Mak..maafkan Satria ya Mak! Satria janji Mak..berusaha cari kerja lagi dan…dan membahagiakan Emak.Tapi Mak janji jangan tinggalkan Satria ya Mak!” Bergetar suaraku dan untuk pertama kalinya aku menangis di pangkuannya. Emak membelai kepalaku dan turut menangis terharu.
“ Terimakasih Tuhan…Kau telah Ijabah doa-doa hamba-Mu selama ini. Sadarnya anakku adalah karunia terbesar untukku”
Hampir dua tahun sudah aku bekerja. Lewat bantuan Om Eka, akhirnya aku menjadi petugas cleaning service di sebuah gedung pemerintahan. Pekerjaan yang awalnya kutolak, kini menjadi bagian dari rutinitas keseharianku. Demi membuat Emak bahagia, aku rela melakukan apapun untuknya. Emak kulihat bahagia dengan perubahanku. Namun, sebagian gajiku habis hanya untuk melunasi hutang Ayah.Sebagian lagi digunakan untuk pengobatan Emak. Semenjak aku bekerja, justru batuk Emak semakin parah. Kubawa Emak ke rumah sakit terdekat.Dari hasil pemeriksaan, dokter memvonis Emak menderita kanker paru-paru! Aku sangat terkejut saat itu! Bagaimana mungkin Emak punya penyakit itu? Tapi Emak menyabarkanku dan meminta untuk rawat jalan saja. Sejak itu, aku jadi semakin rajin bekerja. Sepulang dari cleaning service, aku berusaha mencari pekerjaan lainnya. Sehingga aku terkadang pulang larut malam. Emak kulihat semakin sehat dan batuknya jarang lagi terdengar . Kusyukuri semua karunia Tuhan. Sholatpun tak lagi kutinggalkan. Belajar mengajipun kulakukan setiap hari minggu, bersama Ustadz Somad di masjid Annur.
Minggu depan adalah hari yang istimewa bagi Emak. Aku berencana membelikannya hadiah spesial untuknya.Dua tahun aku bekerja, dan kini saatnya aku membahagiakan Emak,setelah hutang-hutang Ayah terlunasi dan Emak pun nampak makin sehat saja. Mulailah aku menabung sedikit demi sedikit. Aku tahu bahwa Emak hampir tak pernah membeli baju beberapa tahun terakhir ini.Karena uang yang ada habis untuk keperluan lainnya. Nah, aku ingin sekali membelikan baju yang sedikit mahal. Bahkan kalaupun harga baju itu sama dengan gajiku, tak mengapa. Yang terpenting aku ingin melihatnya bahagia di hari ulangtahunnya nanti. Walau Emak tak pernah merayakannya sama sekali.
Siang itu, sepulang dari  tempat kerja, aku mampir sejenak di pasar Sukaramai. Masih teringat ucapan Emak tadi pagi,
“ Sat….minggu besok kamu masuk kerja? Kalau tak, antar Mak ke kuburan Ayahmu ya..Dah lama kita tak ziarah kesana. Mak mau membersihkan kubur Ayahmu.” Aku terdiam.Sambil menghirup teh panas, aku menatap Emak,
“ Bukannya sudah dua hari yang lalu, Mak? Kuburan Ayah pastilah masih bersih.Kan Satria yang membersihkannya Mak..” Emak  nampak agak marah dengan ucapanku tadi.
“ Kalau kau tak mau ya sudahlah..Mak pergi sendiri saja diantar Surti!” Surti adalah tetangga sebelah yang seusia denganku.Tapi Surti itu kuliah sementara aku tidak…
” Heh malah melamun..!! kenapa, kau suka ya sama Surti?” Tanya Emak menggoda. Aku tersipu.Ah,Mak…tak sempat rasanya memikirkan hal itu. Kuhabiskan teh panas yang tersisa kemudian menggamit tangan Emak dan menciumnya,
“ Satria pergi dulu ya Mak…! Sudah, nanti Satria antarkan ke sana. Mak baik-baik ya Mak..Assalamualaikum..”
Dengan semangat aku sibuk memilih baju yang cocok untuk Emak. Tak ada firasat apapun saat itu. Yang terbayang adalah senyum Emak, yang bahagia dengan hadiahku ini.Ini bukti cintaku padamu, Mak! Namun….. saat aku pulang, dirumahku telah banyak orang berkumpul.Semua tetanggaku berkumpul dan nampak menunggu kepulanganku,
“ A…ada apa bang? Kenapa banyak orang? Mak….??!” Tanyaku panik pada Bang Saiful tetanggaku. Nafasku memburu dan kakiku gemetar rasanya.
“ Tenang…sabar sabar. Tadi Emak kau dibawa kerumah sakit naik mobil Pak RT. Beliau pingsan dan….” Aku tak sempat lagi mendengar penjelasan Bang Saiful. Kutarik Bang Saiful menemaniku ke rumah sakit naik motornya. Baju untuk Emak yang terbungkus plastik hitam ku peluk dengan erat.
“ Ya Alloh…selamatkan Emak! Aku mohon pada-Mu Ya alloh…! Emak….maafkan aku Mak!! Kenapa aku tinggalkan Mak sendiri…Kenapa??” batinku meradang pilu. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Umum, ku rapal doa-doa yang kuingat. Ingin rasanya terbang saja dan langsung berada disisi Emak detik ini juga.
Sampai di rumah sakit, setengah berlari aku menuju ruang UGD.Bang Saiful terengah-engah mengejarku,
“ Emak….! Emak kenapa Mak? Dokter selamatkan Emak saya!” jeritku tertahan. Airmataku deras menetes. Diruang UGD Rumah Sakit Umum, kulihat Emak tak sadarkan diri. Seorang dokter dibantu beberapa perawat mencoba menolong Emak.Bang Saiful menahanku agar aku tak mendekati Emak dulu. Alat pemacu jantung terpasang dan Dari grafik kulihat nafas Emak naik turun. Baju baru untuk Emak kupeluk dengan erat. Seperti aku memeluknya…Tuhan….selamatkanlah Emak saya..tolong!! doaku dalam hati.Tiba-tiba, Emak tersadar sesaat.Aku berlari memeluknya dan bang Saiful mendekati Emak juga. Kuciumi wajah Emak, dan perlahan aku menyerahkan bungkusan hadiah baju baru untuknya. Kulihat Emak tersenyum….walau bibirnya pucat dan nafasnya tersengal-sengal, aku yakin Emak menyukai hadiah dariku ini,
“ Mak….! Mak tak apa-apa kan Mak?.. Tadi Satria beli baju baru untuk Emak.Baju ini untuk dipakai hari jadi Emak ya Mak? Maafkan Satria ya Mak…” Aku melihat wajah Emak bersinar. Senyuman manis yang teramat manis yang pernah kulihat,
“ Sat….Mak…Mak sayang kamu nak!! Ma…maafkan…Mak..” Emak menggenggam erat tanganku. Aku bahagia sekali Emak menyukai hadiahku ini. Hingga Bang Saiful menarikku menjauh dari Emak.Genggaman tangan Emak terlepas dan terkulai lemas. Bang Saiful memelukku dan berusaha menyabarkan hatiku.
“ Sabar Sat…Sabar..! Emakmu sudah bahagia dan tenang sekarang..”
Hari minggu ini adalah hari yang bersejarah untuk Emak. Walau Emak tak sempat memakai baju ini, namun aku yakin Emak memakai pakaian yang lebih indah dari yang ku belikan untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar