Emak
Maafkan Aku
Gerimis pagi ini seolah mengerti
kesedihanku. Alam seakan ikut berduka dan tiada henti menemaniku dengan tetesan air yang membasahi apa saja. Aku
terus mengutuk diriku sendiri dan selalu merasa bersalah kenapa ini terjadi.
Dua tahun kerja kerasku terasa sia-sia saja….Masih terbayang senyuman Emak,
saat menerima hadiah pertama kalinya dariku. Kupandang baju yang tergantung di
pojok kamar. Kain songket hijau lumut dipadu dengan baju gamis khas melayu.
Baju yang seharusnya di kenakan Emak saat ulangtahunnya nanti. Namun itu semua
bagai mimpi, karena Emak pun tak kan
sempat memakainya. Justru saat hatiku bahagia karena azzamku membahagiakan Emak
saat hari bahagia itu terwujud.
Masih segar dalam ingatanku saat
Emak rutin membangunkan aku di subuh hari,
“ Satria…bangun! Sholat Subuh ke
Masjid! Tak dengar adzan dah berkumandang?” Ujar Emak menggoyang-goyang
tubuhku.
“ Nanti Mak…! Masih ngantuk…dirumahkan
bisa sholatnya Mak?!” Aku meraih selimut dan kembali tertidur.
“ Hay….macam mana kau bisa
sukses, sholat subuh pun malas !” Aku mendengar langkah kaki Emak keluar kamar.
“ Mak, kalau mau sukses tu kerja,
bukannya sholat subuh!” gerutuku sambil menutupi telingaku dengan bantal.
Semenjak Ayah meninggal lima tahun yang lalu
karena tertabrak mobil, hidupku tak tentu arah. Selepas sekolah menengah, aku
tak melanjutkan kuliah seperti teman-temanku yang lainnya. Ketiadaan biaya jadi
alasan klise menurutku. Bukankah Emak bisa meminjam uang pada Om Eka yang kaya
raya itu? Lagipula Om Eka adalah abang dari Ayahku. Lalu mengapa Emak tak mau
mengusahakan aku untuk bisa kuliah? Emak justru menyuruh aku bekerja pada Om
Eka sebagai penjaga gudang beras miliknya. Aku sangat kecewa saat itu! Karena gengsi pula aku menolak perintah Emak.
Impianku menjadi sarjana hilang terbawa angin. Apalagi Ayah tak meninggalkan
warisan apapun, selain sepetak rumah dan hutang yang bertumpuk.
Tahun demi tahun berlalu dengan
irama yang sama. Emak kulihat semakin sering sakit-sakitan. Entah apa
penyebabnya. Apa karena selalu memikirkanku yang menjadi lelaki pengangguran?
Aku memang tak ingin melakukan apapun.Karena bagiku hidupku sudah selesai dan
tak ada lagi impian bahkan cita-cita. Kerjaku hanya dirumah, kadang pergi
kerumah kawan yang hampir selesai kuliahnya. Hingga di suatu malam, Emak
memanggilku di beranda depan rumah. Bulan sabit nampak bercahaya.Malam begitu
syahdunya sehingga membuatku mengantuk.
“ Sat…Emak tak kuat lagi
melihatmu seperti ini.Maafkan Emak karena kau tak bisa kuliah..Tapi ini sudah
suratan takdir, nak! Ayahmu tak meninggalkan warisan apapun, bahkan hutangnya
menumpuk..Emak tak sanggup berhutang lagi untuk biaya kuliahmu,nak!” Kulihat
Emak dengan sedikit kesal.
“ Satria harus kerja dimana
Mak?...Mana ada perusahaan atau kantor yang menerima lulusan SMA seperti aku
ini? Paling kerjanya jadi pesuruh. Kalau aku sarjana , mungkin aku sudah jadi
direktur atau Kepala bagian…”
“ Satria…kerja apapun asal halal
tak apa nak..Kalau Emak ingin kau langsung kerja saja, itu juga untukmu
sendiri, Mak tak meminta apapun darimu. Hanya….bila nanti Mak dipanggil gusti
Alloh Mak akan ikhlas,karena kau sudah
mandiri dan punya penghasilan sendiri.Jadi tidak tergantung sama orang lain,
nak!” jelas Emak sambil terbatuk-terbatuk. Usia Emak kini menginjak 75 tahun,
usia yang semakin sepuh. Dan itu tak kusadari dari awal.Hatiku seperti tertohok
mendengar ucapan Emak barusan.Dipanggil Tuhan? Apakah…apakah Emak akan pergi
untuk selamanya? Sepintas bayangan almarhum Ayahku berkelebat.
“Mak…Jangan ucapkan itu lagi
Mak!”Aku seperti tersadar dari mimpiku selama ini. Kupandangi wajah Emak.
Kerutan wajah tirusnya, sorotan matanya yang tak lagi awas karena katarak,
tangan kanannya yang gemetar saat memegang gelas membuatku bersimpuh di
pangkuannya,
“Mak..maafkan Satria ya Mak!
Satria janji Mak..berusaha cari kerja lagi dan…dan membahagiakan Emak.Tapi Mak
janji jangan tinggalkan Satria ya Mak!” Bergetar suaraku dan untuk pertama
kalinya aku menangis di pangkuannya. Emak membelai kepalaku dan turut menangis
terharu.
“ Terimakasih Tuhan…Kau telah
Ijabah doa-doa hamba-Mu selama ini. Sadarnya anakku adalah karunia terbesar
untukku”
Hampir dua tahun sudah aku
bekerja. Lewat bantuan Om Eka, akhirnya aku menjadi petugas cleaning service di
sebuah gedung pemerintahan. Pekerjaan yang awalnya kutolak, kini menjadi bagian
dari rutinitas keseharianku. Demi membuat Emak bahagia, aku rela melakukan
apapun untuknya. Emak kulihat bahagia dengan perubahanku. Namun, sebagian
gajiku habis hanya untuk melunasi hutang Ayah.Sebagian lagi digunakan untuk
pengobatan Emak. Semenjak aku bekerja, justru batuk Emak semakin parah. Kubawa
Emak ke rumah sakit terdekat.Dari hasil pemeriksaan, dokter memvonis Emak
menderita kanker paru-paru! Aku sangat terkejut saat itu! Bagaimana mungkin Emak
punya penyakit itu? Tapi Emak menyabarkanku dan meminta untuk rawat jalan saja.
Sejak itu, aku jadi semakin rajin bekerja. Sepulang dari cleaning service, aku
berusaha mencari pekerjaan lainnya. Sehingga aku terkadang pulang larut malam.
Emak kulihat semakin sehat dan batuknya jarang lagi terdengar . Kusyukuri semua
karunia Tuhan. Sholatpun tak lagi kutinggalkan. Belajar mengajipun kulakukan
setiap hari minggu, bersama Ustadz Somad di masjid Annur.
Minggu depan adalah hari yang
istimewa bagi Emak. Aku berencana membelikannya hadiah spesial untuknya.Dua
tahun aku bekerja, dan kini saatnya aku membahagiakan Emak,setelah
hutang-hutang Ayah terlunasi dan Emak pun nampak makin sehat saja. Mulailah aku
menabung sedikit demi sedikit. Aku tahu bahwa Emak hampir tak pernah membeli
baju beberapa tahun terakhir ini.Karena uang yang ada habis untuk keperluan
lainnya. Nah, aku ingin sekali membelikan baju yang sedikit mahal. Bahkan
kalaupun harga baju itu sama dengan gajiku, tak mengapa. Yang terpenting aku
ingin melihatnya bahagia di hari ulangtahunnya nanti. Walau Emak tak pernah
merayakannya sama sekali.
Siang itu, sepulang dari tempat kerja, aku mampir sejenak di pasar
Sukaramai. Masih teringat ucapan Emak tadi pagi,
“ Sat….minggu besok kamu masuk
kerja? Kalau tak, antar Mak ke kuburan Ayahmu ya..Dah lama kita tak ziarah
kesana. Mak mau membersihkan kubur Ayahmu.” Aku terdiam.Sambil menghirup teh
panas, aku menatap Emak,
“ Bukannya sudah dua hari yang
lalu, Mak? Kuburan Ayah pastilah masih bersih.Kan Satria yang membersihkannya
Mak..” Emak nampak agak marah dengan
ucapanku tadi.
“ Kalau kau tak mau ya
sudahlah..Mak pergi sendiri saja diantar Surti!” Surti adalah tetangga sebelah
yang seusia denganku.Tapi Surti itu kuliah sementara aku tidak…
” Heh malah melamun..!! kenapa, kau suka ya sama Surti?” Tanya Emak menggoda. Aku tersipu.Ah,Mak…tak sempat rasanya memikirkan hal itu. Kuhabiskan teh panas yang tersisa kemudian menggamit tangan Emak dan menciumnya,
” Heh malah melamun..!! kenapa, kau suka ya sama Surti?” Tanya Emak menggoda. Aku tersipu.Ah,Mak…tak sempat rasanya memikirkan hal itu. Kuhabiskan teh panas yang tersisa kemudian menggamit tangan Emak dan menciumnya,
“ Satria pergi dulu ya Mak…!
Sudah, nanti Satria antarkan ke sana.
Mak baik-baik ya Mak..Assalamualaikum..”
Dengan semangat aku sibuk memilih
baju yang cocok untuk Emak. Tak ada firasat apapun saat itu. Yang terbayang
adalah senyum Emak, yang bahagia dengan hadiahku ini.Ini bukti cintaku padamu,
Mak! Namun….. saat aku pulang, dirumahku telah banyak orang berkumpul.Semua
tetanggaku berkumpul dan nampak menunggu kepulanganku,
“ A…ada apa bang? Kenapa banyak
orang? Mak….??!” Tanyaku panik pada Bang Saiful tetanggaku. Nafasku memburu dan
kakiku gemetar rasanya.
“ Tenang…sabar sabar. Tadi Emak
kau dibawa kerumah sakit naik mobil Pak RT. Beliau pingsan dan….” Aku tak
sempat lagi mendengar penjelasan Bang Saiful. Kutarik Bang Saiful menemaniku ke
rumah sakit naik motornya. Baju untuk Emak yang terbungkus plastik hitam ku
peluk dengan erat.
“ Ya Alloh…selamatkan Emak! Aku
mohon pada-Mu Ya alloh…! Emak….maafkan aku Mak!! Kenapa aku tinggalkan Mak
sendiri…Kenapa??” batinku meradang pilu. Sepanjang perjalanan menuju Rumah
Sakit Umum, ku rapal doa-doa yang kuingat. Ingin rasanya terbang saja dan
langsung berada disisi Emak detik ini juga.
Sampai di rumah sakit, setengah
berlari aku menuju ruang UGD.Bang Saiful terengah-engah mengejarku,
“ Emak….! Emak kenapa Mak? Dokter
selamatkan Emak saya!” jeritku tertahan. Airmataku deras menetes. Diruang UGD
Rumah Sakit Umum, kulihat Emak tak sadarkan diri. Seorang dokter dibantu
beberapa perawat mencoba menolong Emak.Bang Saiful menahanku agar aku tak
mendekati Emak dulu. Alat pemacu jantung terpasang dan Dari grafik kulihat
nafas Emak naik turun. Baju baru untuk Emak kupeluk dengan erat. Seperti aku
memeluknya…Tuhan….selamatkanlah Emak saya..tolong!! doaku dalam hati.Tiba-tiba,
Emak tersadar sesaat.Aku berlari memeluknya dan bang Saiful mendekati Emak
juga. Kuciumi wajah Emak, dan perlahan aku menyerahkan bungkusan hadiah baju
baru untuknya. Kulihat Emak tersenyum….walau bibirnya pucat dan nafasnya
tersengal-sengal, aku yakin Emak menyukai hadiah dariku ini,
“ Mak….! Mak tak apa-apa kan Mak?.. Tadi Satria
beli baju baru untuk Emak.Baju ini untuk dipakai hari jadi Emak ya Mak? Maafkan
Satria ya Mak…” Aku melihat wajah Emak bersinar. Senyuman manis yang teramat
manis yang pernah kulihat,
“ Sat….Mak…Mak sayang kamu nak!! Ma…maafkan…Mak..”
Emak menggenggam erat tanganku. Aku bahagia sekali Emak menyukai hadiahku ini.
Hingga Bang Saiful menarikku menjauh dari Emak.Genggaman tangan Emak terlepas
dan terkulai lemas. Bang Saiful memelukku dan berusaha menyabarkan hatiku.
“ Sabar Sat…Sabar..! Emakmu sudah
bahagia dan tenang sekarang..”
Hari minggu ini adalah hari yang
bersejarah untuk Emak. Walau Emak tak sempat memakai baju ini, namun aku yakin
Emak memakai pakaian yang lebih indah dari yang ku belikan untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar