RAMADHAN
TANPA BUNDA
Kembali kubaca surat ini. Surat Dari seorang yang ku panggil
ibu. Seharusnya aku gembira dengan datangnya surat itu. Tapi tidak! Yang kurasakan hanya
hampa, dan aku merasa tak ingin menyebut nama itu selamanya. Lima tahun sudah ibu pergi meninggalkanku
sendiri, dikala aku masih butuh kehangatannya. Sehari setelah acara perpisahan
kelulusanku dari sekolah menengah. Saat
itu ibu memelukku, dan dengan kelembutan ucapannya ibu berkata bahwa kepergiannya
takkan lama. Hanya untuk mencari biaya tambahan agar aku bisa kuliah di
perguruan tinggi. Ibu ingin melihat aku menjadi sarjana.
“Di kampung
kita, tidak ada yang sekolah hingga menjadi sarjana, nak. Sebab itu ibu harus
berusaha agar kamu bisa menjadi sarjana. Sesuai pesan almarhum ayahmu.” Ujar
ibu pelan sambil menatapku lembut.
“Tapi Nur tak
ingin ibu pergi….Nur bisa mencari uang sendiri, bu. Kalau ibu ijinkan…”
“ Tidak Nur!
Kamu tak boleh bekerja sambil kuliah. Itu akan menguras tenaga dan
pikiranmu.Kamu lihat Parmin anak Pak
Broto tukang bubur itu, akhirnya …justru
bekerjalah jadi pilihannya, kuliahnya..? Berhenti…!”
Pendapat
itulah yang akhirnya membawa ibu hingga tahun kelima tak bisa kembali ke Indonesia. Majikan
ibu di Kuwait,
tak mengijinkannya untuk pulang. Cuti lebaranpun tak pernah diberikannya. Aku
tak mengerti mengapa ada orang yang sedzolim itu. Menguras tenaga pekerjanya,
tapi mengabaikan hak-hak dasar kehidupannya.
Walaupun setiap
bulan ibu rajin mengirimiku uang , bahkan terkadang berlebih. Hanya lima bulan belakangan ini,
ibu tak lagi mengirimiku uang. Sungguh aku jadi kelabakan, dan terpaksa mencari
uang tambahan dengan berjualan kecil-kecilan di sela kesibukanku kuliah.
Dan
kini, yang kuterima hanya sepucuk surat di lima bulan penantianku
akan kabarnya. Surat
yang ku kirim setiap bulan rupanya tak pernah sampai padanya, entah apa
sebabnya. Aku jadi khawatir dengan keadaannya. Hanya tetes airmata yang
menggelegak menemaniku bila rasa rindu kian membuncah.
Rumah
kontrakanku di bilangin kuningan Jakarta
mendadak sunyi hari ini. Semua teman- teman kuliahku yang menempati rumah ini
bersamaku kompak pagi ini pulang ke daerah nya untuk berpuasa bersama
keluarganya. Termasuk juga Mbok Minah, pembantu di rumah ini, juga berpamitan
padaku hendak pulang ke Brebes. Biasanya, aku dan Mbok Minah berpuasa bersama.
Namun kini, hanya sepi yang menemaniku. Ku rajut tali temali kesabaranku, ku
tahan buliran air mata yang siap membasahi pipiku, saat aku memeluk Mbok Minah
yang berpamitan padaku. Baagiku, Mbok Minah adalah pengganti ibuku yang
bertahun-tahun hilang dari bilik hatiku.
“Mbok pamit dulu
ya nduk. Jaga dirimu baik-baik. Kalau lebaran nanti, datanglah kerumah Mbok.
Kami akan selalu siap menerima kedatanganmu.” Ujar Mbok Minah sambil memelukku.
Sungguh, kata-kata itu sama persis dengan ucapan ibuku dulu.
“Nur ndak
apa-apa, Mbok. Lebaran nanti Nur akan pergi ke desa Mbok.” Bisikku pilu.
Kehampaan
kembali menderaku. Aku seperti orang gila tidak tahu harus berbuat apa. Order
jualan bajuku sepi, uang kuliah yang harus dibayar, belum lagi kebutuhan bulan
Ramadhan. Tiba-tiba aku jadi ingat ibu. Ah,..mengapa ibu tak pulang juga tahun
ini? Aku merindukanmu, bu…! Ku tapaki hari demi hari tanpa kejelasan yang
pasti. Dulu, aku bisa menerima alas an kepergianmu, namun kini saat usiaku
menginjak 22 tahun, aku tak lagi mampu menerima alasan itu. Lima tahun penantianku cukuplah bagiku. Aku
menjadi pribadi yang mandiri, tegas, dan pantang menyerah pada nasib. Namun,
dibalik ketegasanku, dari bilik hatiku aku sangat merindukan sosok seorang ibu.
Di
keheningan malam pertama bulan Ramadhan, suasana hiruk pikuk di luar sana tak mampu
menghiburku. Kuadukan segala keluhku dalam sholat malamku. Terbayang ketika
sahur bersama ayah, ibu dan aku sambil menyantap lauk seadanya. Tapi buatku,
itu adalah syurga duniaku.
“Alloh, ijinkan
ibuku pulang tahun ini, agar aku dapat berbakti kepadanya, disisa usianya…”
lantunan doa yang selalu ku panjatkan selesai sholat. Dan seakan ada kontak
batin antara ibu dan anak, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Di ujung telepon,
suara seorang wanita yang sepertinya ku kenal. Apakah ini ibu?..Tak mungkin,……!
mungkin ini imajinasiku saja…
“Nur…..ini ibumu, nak! Ibu
merindukanmu..” ujar wanita itu sambil terisak.
“ I….ibu?...Tak mungkin..Benarkah
ini ibu?...Ya Alloh, ibu….!! Ibu dimana bu? Mengapa ibu tak pulang. Apa yang terjadi bu?” Tanyaku
sesenggukan.
“ Maafkan ibumu
nak! Ibu tahu nomor teleponmu dari Kang Budi, tetangga kita itu lho yang jadi
TKI. Dia juga yang menolong ibu, hingga ibu bisa berada di KBRI. Ibu lari dari
majikan ibu…ceritanya panjang, nak. Sekarang ibu mau ngurus visa sama paspor
untuk pulang. Lebaran nanti ibu pulang, nak! Yang sabar ya nak…” jelas ibu
panjang lebar.
Ramadhan
tahun ini kurasakan berbeda dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya hatiku
hampa, seperti anak ayam kehilangan induk. Kini, hari-hari Ramadhanku adalah
hari penuh senyum, haru, dan entah rasa apalagi yang bersemayam di hatiku.
Selalu ku hitung hari-hariku, dan doa yang tak putus ku untai untuk ibu agar
urusannya di permudah. Agar aku bisa kembali berjumpa dengan matahariku, yang
selalu menghiasi kehidupanku. Dialah ibuku, seorang wanita pejuang untukku.
Kini, mentari syawal segera bersinar, mengusir kelabunya malam di hatiku. Hari
barupun dimulai, dengan lantunan dzikir menyambut pertemuan dua hati yang terikat dalam ikatan darah dan daging.
Terima kasih Tuhan,…Kau telah mengijabah doa-doa hambaMu ini, batinku
haru.Mimpiku berjumpa ibu di awal Syawal kini menjadi nyata…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar