Rabu, 19 September 2012

Cerpen Ramadhan tanpa Bunda



RAMADHAN TANPA BUNDA

 Kembali kubaca surat ini. Surat Dari seorang yang ku panggil ibu. Seharusnya aku gembira dengan datangnya surat itu. Tapi tidak! Yang kurasakan hanya hampa, dan aku merasa tak ingin menyebut nama itu selamanya. Lima tahun sudah ibu pergi meninggalkanku sendiri, dikala aku masih butuh kehangatannya. Sehari setelah acara perpisahan kelulusanku  dari sekolah menengah. Saat itu ibu memelukku, dan dengan kelembutan ucapannya ibu berkata bahwa kepergiannya takkan lama. Hanya untuk mencari biaya tambahan agar aku bisa kuliah di perguruan tinggi. Ibu ingin melihat aku menjadi sarjana.
“Di kampung kita, tidak ada yang sekolah hingga menjadi sarjana, nak. Sebab itu ibu harus berusaha agar kamu bisa menjadi sarjana. Sesuai pesan almarhum ayahmu.” Ujar ibu pelan sambil menatapku lembut.
“Tapi Nur tak ingin ibu pergi….Nur bisa mencari uang sendiri, bu. Kalau ibu ijinkan…”
“ Tidak Nur! Kamu tak boleh bekerja sambil kuliah. Itu akan menguras tenaga dan pikiranmu.Kamu lihat  Parmin anak Pak Broto tukang bubur itu,  akhirnya …justru bekerjalah jadi pilihannya, kuliahnya..? Berhenti…!”
Pendapat itulah yang akhirnya membawa ibu hingga tahun kelima tak bisa kembali ke Indonesia. Majikan ibu di Kuwait, tak mengijinkannya untuk pulang. Cuti lebaranpun tak pernah diberikannya. Aku tak mengerti mengapa ada orang yang sedzolim itu. Menguras tenaga pekerjanya, tapi mengabaikan hak-hak dasar kehidupannya.
Walaupun setiap bulan ibu rajin mengirimiku uang , bahkan terkadang berlebih. Hanya lima bulan belakangan ini, ibu tak lagi mengirimiku uang. Sungguh aku jadi kelabakan, dan terpaksa mencari uang tambahan dengan berjualan kecil-kecilan di sela kesibukanku kuliah.
Dan kini, yang kuterima hanya sepucuk surat di lima bulan penantianku akan kabarnya. Surat yang ku kirim setiap bulan rupanya tak pernah sampai padanya, entah apa sebabnya. Aku jadi khawatir dengan keadaannya. Hanya tetes airmata yang menggelegak menemaniku bila rasa rindu kian membuncah.
Rumah kontrakanku di bilangin kuningan Jakarta mendadak sunyi hari ini. Semua teman- teman kuliahku yang menempati rumah ini bersamaku kompak pagi ini pulang ke daerah nya untuk berpuasa bersama keluarganya. Termasuk juga Mbok Minah, pembantu di rumah ini, juga berpamitan padaku hendak pulang ke Brebes. Biasanya, aku dan Mbok Minah berpuasa bersama. Namun kini, hanya sepi yang menemaniku. Ku rajut tali temali kesabaranku, ku tahan buliran air mata yang siap membasahi pipiku, saat aku memeluk Mbok Minah yang berpamitan padaku. Baagiku, Mbok Minah adalah pengganti ibuku yang bertahun-tahun hilang dari bilik hatiku.
“Mbok pamit dulu ya nduk. Jaga dirimu baik-baik. Kalau lebaran nanti, datanglah kerumah Mbok. Kami akan selalu siap menerima kedatanganmu.” Ujar Mbok Minah sambil memelukku. Sungguh, kata-kata itu sama persis dengan ucapan ibuku dulu.
“Nur ndak apa-apa, Mbok. Lebaran nanti Nur akan pergi ke desa Mbok.” Bisikku pilu.
Kehampaan kembali menderaku. Aku seperti orang gila tidak tahu harus berbuat apa. Order jualan bajuku sepi, uang kuliah yang harus dibayar, belum lagi kebutuhan bulan Ramadhan. Tiba-tiba aku jadi ingat ibu. Ah,..mengapa ibu tak pulang juga tahun ini? Aku merindukanmu, bu…! Ku tapaki hari demi hari tanpa kejelasan yang pasti. Dulu, aku bisa menerima alas an kepergianmu, namun kini saat usiaku menginjak 22 tahun, aku tak lagi mampu menerima alasan itu. Lima tahun penantianku cukuplah bagiku. Aku menjadi pribadi yang mandiri, tegas, dan pantang menyerah pada nasib. Namun, dibalik ketegasanku, dari bilik hatiku aku sangat merindukan sosok seorang ibu.
Di keheningan malam pertama bulan Ramadhan, suasana hiruk pikuk di luar sana tak mampu menghiburku. Kuadukan segala keluhku dalam sholat malamku. Terbayang ketika sahur bersama ayah, ibu dan aku sambil menyantap lauk seadanya. Tapi buatku, itu adalah syurga duniaku.
“Alloh, ijinkan ibuku pulang tahun ini, agar aku dapat berbakti kepadanya, disisa usianya…” lantunan doa yang selalu ku panjatkan selesai sholat. Dan seakan ada kontak batin antara ibu dan anak, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Di ujung telepon, suara seorang wanita yang sepertinya ku kenal. Apakah ini ibu?..Tak mungkin,……! mungkin ini imajinasiku saja…
“Nur…..ini ibumu, nak! Ibu merindukanmu..” ujar wanita itu sambil terisak.
“ I….ibu?...Tak mungkin..Benarkah ini ibu?...Ya Alloh, ibu….!! Ibu dimana bu? Mengapa  ibu tak pulang. Apa yang terjadi bu?” Tanyaku sesenggukan.
“ Maafkan ibumu nak! Ibu tahu nomor teleponmu dari Kang Budi, tetangga kita itu lho yang jadi TKI. Dia juga yang menolong ibu, hingga ibu bisa berada di KBRI. Ibu lari dari majikan ibu…ceritanya panjang, nak. Sekarang ibu mau ngurus visa sama paspor untuk pulang. Lebaran nanti ibu pulang, nak! Yang sabar ya nak…” jelas ibu panjang lebar.
Ramadhan tahun ini kurasakan berbeda dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya hatiku hampa, seperti anak ayam kehilangan induk. Kini, hari-hari Ramadhanku adalah hari penuh senyum, haru, dan entah rasa apalagi yang bersemayam di hatiku. Selalu ku hitung hari-hariku, dan doa yang tak putus ku untai untuk ibu agar urusannya di permudah. Agar aku bisa kembali berjumpa dengan matahariku, yang selalu menghiasi kehidupanku. Dialah ibuku, seorang wanita pejuang untukku. Kini, mentari syawal segera bersinar, mengusir kelabunya malam di hatiku. Hari barupun dimulai, dengan lantunan dzikir menyambut pertemuan dua hati  yang terikat dalam ikatan darah dan daging. Terima kasih Tuhan,…Kau telah mengijabah doa-doa hambaMu ini, batinku haru.Mimpiku berjumpa ibu di awal Syawal kini menjadi nyata….. 

                                                                                                                                                                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar