Rabu, 19 September 2012

dongeng tradisi yang terlupakan



                            Dongeng Tradisi yang Terlupakan

Beragam budaya dan tradisi bertaburan di negeri ini. Salah satunya adalah dongeng. Di setiap suku bangsa, pastilah mengenal apa itu dongeng, tentu dengan adat istiadat yang berlaku di suatu daerah. Dari zaman nenek moyang kita, dongeng diwariskan turun temurun dan menjadi tradisi.  Bahkan disetiap daerah, dongeng tidaklah sama  dalam cerita atau bahasanya. Tidak ada yang tidak mengenal dongeng. Hanya saja dongeng kerap dikatakan hanya sebatas cerita atau imajinasi semata.
Berdasarkan literatur, dongeng adalah cerita rakyat lisan. Menurut Danandjaya (1984), dongeng adalah cerita rakyat yang tidak benar-benar terjadi oleh si punya cerita, dan tidak terikat waktu dan tempat. Walaupun ada juga dongeng yang berisikan cerita asli atau kisah nyata. Sedangkan menurut Larkin ( 1947), dongeng adalah menceritakan kisah baik lisan ataupun membaca buku.
Bagi orangtua, dongeng sebenarnya tidaklah asing. Karena alam bawah sadarnya masih merekam kenangan manis saat ibu atau ayah mereka membacakan dongeng sebelum tidur. Namun seiring perkembangan jaman, dongeng tidak lagi dilirik sebagai bentuk pendidikan terutama untuk kalangan anak-anak. Walaupun segmentasi dongeng lebih dikhususkan untuk anak-anak, orang dewasa dan orangtua yang peduli kepada pendidikan ternyata juga  menyukai dongeng. Di zaman yang serba canggih ini, kini disetiap rumah tangga selalu tersedia alat-alat teknologi seperti televisi, VCD Player, laptop dan juga handphone yang bertugas menggeser peran orangtua untuk mendongeng. Cukup nyalakan televisi, maka sang anak akan duduk manis mendengar dan melihat acara yang dikatakan cocok untuk anak. Kesibukan orangtua sehingga tidak sempat  untuk mendongeng dan ketiadaan waktu khusus untuk mendongeng menjadi alasan utama para orangtua enggan mendongeng untuk anak-anak mereka. Bahkan banyak orangtua yang menganggap dongeng itu tidaklah penting, karena anak-anak mereka sudah pandai membaca, sehingga mereka bisa membaca cerita sendiri.
Berdasarkan penelitian, dongeng bermanfaat sangat penting bagi perkembangan mental, fisik dan juga ruhiyah bagi tumbuh kembang seorang anak, dimulai dari anak usia dini yang lebih suka mendengarkan cerita daripada membaca. Menurut T.Sarumpaet dalam  Maerzyda (2003), dongeng dapat memfasilitasi perkembangan emosi anak. Sedangkan menurut Goleman (1995), IQ hanya menyumbang 20% dari kesuksesan individu, 80 % lainnya kecerdasan emosional. Maka dari itu, dongeng dapat merangsang imajinasi, juga dapat meningkatkan kecerdasan emosi yang memiliki peran penting dalam kesuksesan individu di kehidupannya kelak. Bagi orangtua, dengan mendongeng akan mendekatkan mereka pada anak-anaknya secara emosional.   
Tak ada  yang tahu secara persis bagaimana dongeng berkembang sejak dari  awal kelahirannya. Karena dongeng itu berkembang di suatu daerah dan mengikuti tradisi atau  cerita sesuai kondisi daerah itu. Pada zaman kerajaan, hidup para pendongeng dijamin oleh raja. Di daerah Aceh, tukang cerita disebut  sebagai PmToh (Kope). Sedangkan di Jawa disebut Tukang Kentrung. Dan di Jakarta terkenal istilah Syahibul Hikayat. Salah satu dongeng yang terkenal hingga kini adalah Hikayat 1001 Malam, yang kisah aslinya mengenai seorang raja yang gemar menikahi perempuan muda untuk kemudian dibunuhnya saat malam pertama. Didaerah Sumatera khususnya melayu, dongeng sebenarnya tak asing lagi. Dongeng mengenai cerita Perahu Lancang Kuning yang melegenda  dan menjadi salah satu ikon di Riau ini juga tak banyak yang mengetahuinya. Daerah Riau yang erat dengan nuansa melayunya sebenarnya juga banyak menyimpan khazanah budaya termasuk dongeng.
Melihat peran pentingnya sebuah dongeng dalam perkembangan generasi sebuah bangsa, maka harus ada upaya untuk kembali mempopulerkan dongeng di kalangan masyarakat. Bukan saja bagi kalangan pendidik, maupun orang yang benar-benar membaktikan dirinya bagi kelestarian dongeng. Orangtua juga seharusnya kembali melirik dongeng sebagai alternatif pendidikan untuk anak-anaknya. Bagi orangtua, mendongeng tidak harus membutuhkan latihan khusus, hanya yang diperlukan adalah waktu luang dan keikhlasan hati untuk mendongeng. Menjadikan kegiatan mendongeng adalah suatu kegiatan atau rutinitas yang seru dan mengasyikkan bagi orangtua dan khusus bagi anak-anaknya. Sehingga semua anak bangsa, bisa terlibat dalam kelestarian dongeng dan mewariskannya dari generasi ke generasi berikutnya. Namun perlu dicatat dalam penerapan dongeng, haruslah dicarikan dongeng yang berisikan pesan-pesan moral dan akhlak yang baik. Jangan sampai kita sebagai orangtua tidak menyeleksi dongeng apa yang hendak kita sampaikan. Seperti misalnya, ada orangtua yang ingin agar anaknya tidak nakal, maka bundanya kemudian menceritakan sebuah dongeng yang sebenarnya pesannya bagus hanya sang bunda kurang jeli dengan judul dongeng itu. Yakni dongeng nya diberi judul “si kancil yang nakal”, sehingga yang terekam di memori otak anaknya yang masih balita adalah kata-kata yang negatif ( nakal).Justru pesan moral yang baik tidak tercerna atau tidak tertangkap bagi anaknya. Karena bagi anak usia balita, belum bisa memilah mana yang baik dan negatif terutama dalam berprilaku. Jika kata-kata yang negatif  lebih sering didengar bahkan lewat sebuah dongeng, maka menjelang dewasa kata-kata yang tidak baik itu akan terejawantahkan dalam sebuah prilaku yang permanen. Sehingga keinginan orangtua yang ingin membentuk buah hati mereka menjadi anak-anak sholeh dan berakhlak baik tidak tercapai. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk menyeleksi dongeng secara ketat.
Jika di setiap sekolah terutama taman bermain, Play Group, PAUD sering diceritakan sebuah dongeng oleh para pendidik. Bahkan ada jam-jam khusus untuk para guru untuk mendongeng. Sehingga terkadang acara dongeng adalah acara yang ditunggu oleh sebagian besar para murid. Maka tak ada salahnya bila disetiap sekolah dasar bahkan menengah juga mulai dipopulerkan dongeng yang adalah juga tradisi bangsa ini. Tentu dengan bahasa dan gaya remaja walau tidak menghilangkan esensi dan maksud serta tujuan dongeng itu sendiri. Karena dongeng juga memiliki ciri khas dan teknik tersendiri, terpisah dari budaya lainnya.Sehingga dongeng pun akan dikenal tidak saja dikalangan generasi jaman dahulu, namun juga dinikmati bahkan digandrungi oleh generasi masa kini. Tidak lagi memandang sebelah mata atau bahkan alergi dengan dongeng, namun justru yang berwenang dengan pendidikan di Negara Indonesia ini memasukkan dongeng dalam kurikulum pendidikan. Terutama pendidikan sastra dan sejarahnya. Di setiap jenjang pendidikan akan ada pelajaran mengenal dan kemudian mempraktekkan dongeng. Namun, untuk mampu seperti itu, perlu perhatian lebih dari  pihak pemerintah yang berkepentingan dalam melestarikan sebuah seni dan budaya.
Membangun karakter dengan dongeng adalah suatu hal yang penting dilakukan. Karena untuk memperbaiki bangsa ini, maka lewat jalan dongeng terutama kepada generasi awal, adalah keharusan. Dongeng bisa memiliki arti yang luas dan banyak hikmah yang terkandung didalamnya. Bagi generasi jaman dahulu, yang kini menjadi ayah atau ibu kita ternyata lebih peduli kepada pendidikan anak-anaknya yang dibuktikan dengan senantiasa mendongeng. Sehingga karakter budaya yang kuat, yang berbudi pekerti yang luhur terpatri kuat dalam benak  anak-anak mereka. Contohnya  budaya malu, yang kini secara perlahan menghilang dari perilaku generasi jaman kini. Sehingga tak ada lagi rasa malu bila melakukan hal-hal tercela, seperti korupsi, pergaulan bebas bahkan pornografi dan pornoaksi. Dengan menggiatkan dongeng, hal-hal seperti itu, bisa diminimalisir tanpa harus menggurui.
Pada akhirnya, lestarinya sebuah tradisi atau budaya yang beraneka ragam di tanah air kita terutama dongeng, terpulang kembali kepada masing-masing diri kita sebagai anak bangsa. Bagi generasi yang hidup di masa lalu, seharusnya turut menularkan kegemaran mereka akan dongeng. Karena dongeng bukan sekedar cerita masa lalu atau nostalgia dari generasi tua. Namun dongeng juga menyimpan banyak nilai, budaya dan keluhuran budi pekerti. Dengan mendongeng, pendengar bisa terbuai dalam alur cerita, ikut merasakan cerita sang tokoh, kemudian secara tak sadar mengambil butiran nilai-nilai positif yang bisa di lakukan dalam dunia nyata. Dongeng itu asyik dan mengasyikkan, bagi siapapun yang mendengarnya. Dan bagi pendongeng, juga akan mendapatkan nilai-nilai positif dari pendengarnya, baik lewat antusias mereka dalam mendengarkan, gerak wajah mereka yang berbinar saat mendengar dongeng, dan nilai positif lainnya. Bangsa ini sudah lama kehilangan sense of crisis, sebagai jati diri sebuah bangsa yang memiliki peradaban ramah dan berbudaya malu. Nah, lewat dongeng hal itu bisa di wujudkan kembali.
Keberadaan dongeng pada hakikatnya sebagai salah satu wasilah untuk menciptakan bangsa yang berkarakter, yang mandiri, merdeka dalam arti yang sebenarnya. Dan hal itu bisa dimulai dari generasi muda bahkan semenjak balita. Bukankah anak-anak kita nanti yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dimasa yang akan datang? Sehingga dongeng tak akan menjadi tradisi yang terlupakan bahkan hilang sama sekali dari peradaban bangsa ini.Sebagai bangsa yang besar, tentulah selayaknya bangga dengan beragam budaya terutama dongeng. Tak ada salahnya, jika kita memulai dongeng mulai dari saat ini. Mulai dari keluarga kita sendiri, menyempatkan diri untuk mendongeng yang takkan memakan waktu yang lama. Harapan penulis, dongeng mulai menjadi kegemaran kita terutama bagi anak-anak kita. Sehingga dongeng tradisi yang terlupakan tak akan terjadi sampai kapanpun. Semoga!



                                                                            Zahra Muthia Pekanbaru 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar