Dongeng Tradisi
yang Terlupakan
Beragam budaya dan tradisi
bertaburan di negeri ini. Salah satunya adalah dongeng. Di setiap suku bangsa,
pastilah mengenal apa itu dongeng, tentu dengan adat istiadat yang berlaku di
suatu daerah. Dari zaman nenek moyang kita, dongeng diwariskan turun temurun
dan menjadi tradisi. Bahkan disetiap
daerah, dongeng tidaklah sama dalam cerita
atau bahasanya. Tidak ada yang tidak mengenal dongeng. Hanya saja dongeng kerap
dikatakan hanya sebatas cerita atau imajinasi semata.
Berdasarkan literatur, dongeng
adalah cerita rakyat lisan. Menurut Danandjaya (1984), dongeng adalah cerita
rakyat yang tidak benar-benar terjadi oleh si punya cerita, dan tidak terikat
waktu dan tempat. Walaupun ada juga dongeng yang berisikan cerita asli atau
kisah nyata. Sedangkan menurut Larkin ( 1947), dongeng adalah menceritakan
kisah baik lisan ataupun membaca buku.
Bagi orangtua, dongeng sebenarnya
tidaklah asing. Karena alam bawah sadarnya masih merekam kenangan manis saat
ibu atau ayah mereka membacakan dongeng sebelum tidur. Namun seiring
perkembangan jaman, dongeng tidak lagi dilirik sebagai bentuk pendidikan
terutama untuk kalangan anak-anak. Walaupun segmentasi dongeng lebih
dikhususkan untuk anak-anak, orang dewasa dan orangtua yang peduli kepada
pendidikan ternyata juga menyukai
dongeng. Di zaman yang serba canggih ini, kini disetiap rumah tangga selalu
tersedia alat-alat teknologi seperti televisi, VCD Player, laptop dan juga handphone
yang bertugas menggeser peran orangtua untuk mendongeng. Cukup nyalakan
televisi, maka sang anak akan duduk manis mendengar dan melihat acara yang
dikatakan cocok untuk anak. Kesibukan orangtua sehingga tidak sempat untuk mendongeng dan ketiadaan waktu khusus
untuk mendongeng menjadi alasan utama para orangtua enggan mendongeng untuk
anak-anak mereka. Bahkan banyak orangtua yang menganggap dongeng itu tidaklah
penting, karena anak-anak mereka sudah pandai membaca, sehingga mereka bisa
membaca cerita sendiri.
Berdasarkan penelitian, dongeng
bermanfaat sangat penting bagi perkembangan mental, fisik dan juga ruhiyah bagi
tumbuh kembang seorang anak, dimulai dari anak usia dini yang lebih suka
mendengarkan cerita daripada membaca. Menurut T.Sarumpaet dalam Maerzyda (2003), dongeng dapat memfasilitasi
perkembangan emosi anak. Sedangkan menurut Goleman (1995), IQ hanya menyumbang
20% dari kesuksesan individu, 80 % lainnya kecerdasan emosional. Maka dari itu,
dongeng dapat merangsang imajinasi, juga dapat meningkatkan kecerdasan emosi
yang memiliki peran penting dalam kesuksesan individu di kehidupannya kelak.
Bagi orangtua, dengan mendongeng akan mendekatkan mereka pada anak-anaknya
secara emosional.
Tak ada yang tahu secara persis bagaimana dongeng
berkembang sejak dari awal kelahirannya.
Karena dongeng itu berkembang di suatu daerah dan mengikuti tradisi atau cerita sesuai kondisi daerah itu. Pada zaman
kerajaan, hidup para pendongeng dijamin oleh raja. Di daerah Aceh, tukang
cerita disebut sebagai PmToh (Kope).
Sedangkan di Jawa disebut Tukang Kentrung. Dan di Jakarta terkenal istilah
Syahibul Hikayat. Salah satu dongeng yang terkenal hingga kini adalah Hikayat
1001 Malam, yang kisah aslinya mengenai seorang raja yang gemar menikahi
perempuan muda untuk kemudian dibunuhnya saat malam pertama. Didaerah Sumatera
khususnya melayu, dongeng sebenarnya tak asing lagi. Dongeng mengenai cerita
Perahu Lancang Kuning yang melegenda dan
menjadi salah satu ikon di Riau ini juga tak banyak yang mengetahuinya. Daerah
Riau yang erat dengan nuansa melayunya sebenarnya juga banyak menyimpan
khazanah budaya termasuk dongeng.
Melihat peran pentingnya sebuah
dongeng dalam perkembangan generasi sebuah bangsa, maka harus ada upaya untuk
kembali mempopulerkan dongeng di kalangan masyarakat. Bukan saja bagi kalangan
pendidik, maupun orang yang benar-benar membaktikan dirinya bagi kelestarian
dongeng. Orangtua juga seharusnya kembali melirik dongeng sebagai alternatif
pendidikan untuk anak-anaknya. Bagi orangtua, mendongeng tidak harus
membutuhkan latihan khusus, hanya yang diperlukan adalah waktu luang dan
keikhlasan hati untuk mendongeng. Menjadikan kegiatan mendongeng adalah suatu kegiatan
atau rutinitas yang seru dan mengasyikkan bagi orangtua dan khusus bagi anak-anaknya.
Sehingga semua anak bangsa, bisa terlibat dalam kelestarian dongeng dan
mewariskannya dari generasi ke generasi berikutnya. Namun perlu dicatat dalam
penerapan dongeng, haruslah dicarikan dongeng yang berisikan pesan-pesan moral
dan akhlak yang baik. Jangan sampai kita sebagai orangtua tidak menyeleksi
dongeng apa yang hendak kita sampaikan. Seperti misalnya, ada orangtua yang
ingin agar anaknya tidak nakal, maka bundanya kemudian menceritakan sebuah
dongeng yang sebenarnya pesannya bagus hanya sang bunda kurang jeli dengan
judul dongeng itu. Yakni dongeng nya diberi judul “si kancil yang nakal”,
sehingga yang terekam di memori otak anaknya yang masih balita adalah kata-kata
yang negatif ( nakal).Justru pesan moral yang baik tidak tercerna atau tidak
tertangkap bagi anaknya. Karena bagi anak usia balita, belum bisa memilah mana
yang baik dan negatif terutama dalam berprilaku. Jika kata-kata yang
negatif lebih sering didengar bahkan
lewat sebuah dongeng, maka menjelang dewasa kata-kata yang tidak baik itu akan
terejawantahkan dalam sebuah prilaku yang permanen. Sehingga keinginan orangtua
yang ingin membentuk buah hati mereka menjadi anak-anak sholeh dan berakhlak
baik tidak tercapai. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk
menyeleksi dongeng secara ketat.
Jika di setiap sekolah terutama
taman bermain, Play Group, PAUD sering diceritakan sebuah dongeng oleh para
pendidik. Bahkan ada jam-jam khusus untuk para guru untuk mendongeng. Sehingga
terkadang acara dongeng adalah acara yang ditunggu oleh sebagian besar para
murid. Maka tak ada salahnya bila disetiap sekolah dasar bahkan menengah juga
mulai dipopulerkan dongeng yang adalah juga tradisi bangsa ini. Tentu dengan
bahasa dan gaya
remaja walau tidak menghilangkan esensi dan maksud serta tujuan dongeng itu
sendiri. Karena dongeng juga memiliki ciri khas dan teknik tersendiri, terpisah
dari budaya lainnya.Sehingga dongeng pun akan dikenal tidak saja dikalangan
generasi jaman dahulu, namun juga dinikmati bahkan digandrungi oleh generasi
masa kini. Tidak lagi memandang sebelah mata atau bahkan alergi dengan dongeng,
namun justru yang berwenang dengan pendidikan di Negara Indonesia ini memasukkan dongeng
dalam kurikulum pendidikan. Terutama pendidikan sastra dan sejarahnya. Di
setiap jenjang pendidikan akan ada pelajaran mengenal dan kemudian mempraktekkan
dongeng. Namun, untuk mampu seperti itu, perlu perhatian lebih dari pihak pemerintah yang berkepentingan dalam
melestarikan sebuah seni dan budaya.
Membangun karakter dengan dongeng
adalah suatu hal yang penting dilakukan. Karena untuk memperbaiki bangsa ini,
maka lewat jalan dongeng terutama kepada generasi awal, adalah keharusan.
Dongeng bisa memiliki arti yang luas dan banyak hikmah yang terkandung didalamnya.
Bagi generasi jaman dahulu, yang kini menjadi ayah atau ibu kita ternyata lebih
peduli kepada pendidikan anak-anaknya yang dibuktikan dengan senantiasa
mendongeng. Sehingga karakter budaya yang kuat, yang berbudi pekerti yang luhur
terpatri kuat dalam benak anak-anak
mereka. Contohnya budaya malu, yang kini
secara perlahan menghilang dari perilaku generasi jaman kini. Sehingga tak ada
lagi rasa malu bila melakukan hal-hal tercela, seperti korupsi, pergaulan bebas
bahkan pornografi dan pornoaksi. Dengan menggiatkan dongeng, hal-hal seperti
itu, bisa diminimalisir tanpa harus menggurui.
Pada akhirnya, lestarinya sebuah
tradisi atau budaya yang beraneka ragam di tanah air kita terutama dongeng,
terpulang kembali kepada masing-masing diri kita sebagai anak bangsa. Bagi
generasi yang hidup di masa lalu, seharusnya turut menularkan kegemaran mereka
akan dongeng. Karena dongeng bukan sekedar cerita masa lalu atau nostalgia dari
generasi tua. Namun dongeng juga menyimpan banyak nilai, budaya dan keluhuran
budi pekerti. Dengan mendongeng, pendengar bisa terbuai dalam alur cerita, ikut
merasakan cerita sang tokoh, kemudian secara tak sadar mengambil butiran
nilai-nilai positif yang bisa di lakukan dalam dunia nyata. Dongeng itu asyik
dan mengasyikkan, bagi siapapun yang mendengarnya. Dan bagi pendongeng, juga
akan mendapatkan nilai-nilai positif dari pendengarnya, baik lewat antusias
mereka dalam mendengarkan, gerak wajah mereka yang berbinar saat mendengar
dongeng, dan nilai positif lainnya. Bangsa ini sudah lama kehilangan sense of
crisis, sebagai jati diri sebuah bangsa yang memiliki peradaban ramah dan
berbudaya malu. Nah, lewat dongeng hal itu bisa di wujudkan kembali.
Keberadaan dongeng pada
hakikatnya sebagai salah satu wasilah untuk menciptakan bangsa yang
berkarakter, yang mandiri, merdeka dalam arti yang sebenarnya. Dan hal itu bisa
dimulai dari generasi muda bahkan semenjak balita. Bukankah anak-anak kita
nanti yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dimasa yang akan datang?
Sehingga dongeng tak akan menjadi tradisi yang terlupakan bahkan hilang sama
sekali dari peradaban bangsa ini.Sebagai bangsa yang besar, tentulah selayaknya
bangga dengan beragam budaya terutama dongeng. Tak ada salahnya, jika kita
memulai dongeng mulai dari saat ini. Mulai dari keluarga kita sendiri, menyempatkan
diri untuk mendongeng yang takkan memakan waktu yang lama. Harapan penulis,
dongeng mulai menjadi kegemaran kita terutama bagi anak-anak kita. Sehingga
dongeng tradisi yang terlupakan tak akan terjadi sampai kapanpun. Semoga!
Zahra Muthia Pekanbaru 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar